Zuli Dewi Mulyowati: cerita motivasi
Showing posts with label cerita motivasi. Show all posts
Showing posts with label cerita motivasi. Show all posts

Masalah Adalah Hadiah


Optimisme adalah memandang hidup ini sebagai persembahan terbaik. Tidak ada sesuatu yang terjadi begitu saja dan mengalir sia-sia. Pasti ada tujuan. Pasti ada maksud. Mungkin anda pernah mengalami pengalaman buruk yang tak menyenangkan, maka keburukan itu hanya karena anda melihat dari salah satu sudut mata yg berkaitan uang saja.
Bila anda berani menengok ke sisi yang lain, anda akan menemukan pemandangan yang jauh berbeda. Anda tidak harus menjadi orang tersenyum terus atau menampakkan wajah yang ceria.
Optimisme terletak di dalam hati, bukan hanya terpampang di muka. Jadilah optimis, karena hidup ini terlalu rumit untuk dipandang dengan mengerutkan alis dan muka.
Setiap tetes air yang keluar dari mata air tahu mereka mengalir menuju ke laut. Meskipun melalui anak sungai, belokan, kawasan kali keruh, danau dan muara, mereka yakin perjalanan mereka bukan tanpa tujuan. Bahkan, ketika menunggu di muara, setiap tetes air tahu, suatu saat panas dan angin akan membawa mereka ke pucuk-pucuk gunung. Menjadi awan dan menurunkan hujan. Sebagian menyuburkan rumput, sebagian tertampung dalam sumur-sumur atau telaga. Sebagian kembali ke laut. Adakah sesuatu yang sia-sia dari setiap tetes air yang anda temui?
Masalah Adalah Hadiah.
Bila anda menganggap masalah sebagai beban, anda mungkin akan menghindarinya atau menjauhinya. Bila anda menganggap masalah sebagai halangan, anda mungkin akan menghadapinya. Namun, masalah adalah hadiah yang dapat anda terima dengan suka cita. Dengan pandangan tajam, anda melihat kejayaan di balik setiap masalah.
Masalah adalah anak tangga menuju kekuatan yang lebih tinggi. Maka, hadapi dan ubahlah menjadi kekuatan untuk kesuksesan anda. Tanpa masalah, anda tak layak memasuki jalur kesuksesan. Bahkan hidup ini pun masalah, karena itu terimalah sebagai hadiah.
Hadiah terbesar yang dapat diberikan oleh induk elang pada anak-anaknya bukanlah serpihan-serpihan makanan pagi. Bukan pula, dekapan hangat di malam-malam yang dingin. Namun, ketika mereka melempar anak-anak itu dari tempat yang tinggi.
Detik pertama anak-anak elang itu menganggap induk mereka sungguh keterlaluan, menjerit ketakutan, matilah aku. Beberapa ketika kemudian, bukan kematian yang mereka terima, namun kesejatian diri sebagai elang, yaitu terbang. Bila anda tidak berani mengatasi masalah, andatidak akan menjadi seseorang yang sejati.

MUNGKIN INI ADALAH YANG TERBAIK "

Dahulu kala, di suatu kerajaan hiduplah seorang menteri yang bijaksana, menteri tersebut menjadi orang terdekat raja yang selalu menjadi pendampingnya di setiap kesempatan. Setiap raja tertimpa permasalahan, menteri tersebut selalu berucap kepada raja; “mungkin ini adalah yang terbaik”.

Pada suatu kesempatan, karena suatu kecelakaan salah satu jari tangan raja terputus kemudian menteri tersebut kembali berucap; “mungkin ini adalah yang terbaik”, seketika itu sang raja marah besar, kemudian raja berkata; “apa yang kau maksud yang terbaik itu?!!”, dengan perasaan jengkel (karena merasa dilecehkan), raja memerintahkan pasukannya untuk memenjarakan menteri tersebut. Dengan tenang menteri itu kembali berucap; “mungkin ini yang terbaik”. Dan dikurunglah menteri tersebut dalam penjara dalam waktu yang cukup lama.

Pada suatu hari, ketika raja pergi untuk berburu, karena saking semangatnya untuk mengejar hewan buruannya, raja tersebut memacu kencang tunggangannya sehingga para pengawalnya tertinggal jauh olehnya, sehingga sampailah raja tersebut seorang diri jauh dari para pengawalnya pada suatu tempat yang terdapat dalam tempat tersebut sekelompok orang-orang yang menyembah berhala. Karena raja tersebut tinggal seorang diri, ditawanlah beliau oleh para penyembah berhala tersebut yang nantinya akan dijadikan sebagai tumbal persembahan kepada berhala yang mereka sembah.

Tetapi setelah para penyembah berhala itu tau bahwa tawanannya tersebut memiliki cacat yaitu terpotong salah satu jarinya, serta-merta mereka melepaskan raja tersebut dan meninggalkannya karena dianggap cacat dan tidak pantas untuk persembahan.

Dengan perasaan gembira luar biasa karena selamat dan tidak jadi dijadikan bahan tumbal persembahan, raja tersebut memacu tunggangannya dengan sekencang mungkin untuk kembali ke kerajaannya. Setelah sampai di kerajaannya, hal pertama kali yang dilakukan oleh raja tersebut adalah memerintahkan pengawalnya untuk membebaskan sang menteri dari dalam penjara dan kemudian diantarkan menuju hadapan raja.

Setelah menteri tersebut sampai dihadapan raja, dengan sepenuh hati sang raja memohon maaf kepada menteri atas perbuatannya yang telah memenjarakan menteri tersebut dengan sewenang-wenang. Setelah meminta maaf, kemudian sang raja berkata;

“Sekarang aku baru mengerti dan merasakan atas hikmah kebaikan dari terpotongnya salah satu jariku, seperti yang kau katakan dulu...Aku bersyukur sekali”.

Kemudian raja melanjutkan;

“Yang masih jadi pertanyaanku sekarang, apa maksud kebaikan yang kau katakan ketika aku perintahkan pengawalku untuk memenjarakanmu dulu?!”.

Dengan tenang menteri tersebut menjawab;

“Jika saja paduka tidak memenjarakanku pada waktu itu, mungkin saat ini saya tidak lagi bisa berdiri dihadapan paduka, karena mungkin saya sudah mati dijadikan tumbal persembahan untuk menggantikan paduka. Hal itu disebabkan karena saya tidak mempunyai cacat fisik dan seperti yang paduka ketahui, dulu saya selalu menyertai paduka kemanapun paduka pergi”.

“Oleh karena itu paduka….marilah kita selalu berprasangka baik kepada Tuhan, bahwa apa pun yang ditaqdirkan-Nya kepada kita semua pasti mengandung kebaikan yang mungkin tidak bisa kita fahami”.
 Foto: MOTIVASI MALAM " MUNGKIN INI ADALAH YANG TERBAIK "

BACA NIH FLEECIOUS, PEMBELAJARAN UNTUK KITA SEMUA

SILAHKAN LIKE DAN SHARE.

Dahulu kala, di suatu kerajaan hiduplah seorang menteri yang bijaksana,   menteri tersebut menjadi orang terdekat raja yang selalu menjadi pendampingnya di setiap kesempatan. Setiap raja tertimpa permasalahan,  menteri tersebut selalu berucap kepada raja; “mungkin ini adalah yang terbaik”.

Pada suatu kesempatan, karena suatu kecelakaan salah satu jari tangan raja terputus kemudian menteri tersebut kembali berucap; “mungkin ini adalah yang terbaik”, seketika itu sang raja marah besar, kemudian raja berkata; “apa yang kau maksud yang terbaik itu?!!”, dengan perasaan jengkel (karena merasa dilecehkan), raja memerintahkan pasukannya untuk memenjarakan menteri tersebut. Dengan tenang menteri itu kembali berucap; “mungkin ini yang terbaik”. Dan dikurunglah menteri tersebut dalam penjara dalam waktu yang cukup lama.

Pada suatu hari, ketika raja pergi untuk berburu, karena saking semangatnya untuk mengejar hewan buruannya, raja tersebut memacu kencang tunggangannya sehingga para pengawalnya tertinggal jauh olehnya, sehingga sampailah raja tersebut seorang diri jauh dari para pengawalnya pada suatu tempat yang terdapat dalam tempat tersebut sekelompok orang-orang yang menyembah berhala. Karena raja tersebut tinggal seorang diri, ditawanlah beliau oleh para penyembah berhala tersebut yang nantinya akan dijadikan sebagai tumbal persembahan kepada berhala yang mereka sembah.

Tetapi setelah para penyembah berhala itu tau  bahwa tawanannya tersebut memiliki cacat yaitu terpotong salah satu jarinya, serta-merta mereka melepaskan raja tersebut dan meninggalkannya karena dianggap cacat dan tidak pantas untuk persembahan.

Dengan perasaan gembira luar biasa karena selamat dan tidak jadi dijadikan bahan tumbal persembahan, raja tersebut memacu tunggangannya dengan sekencang mungkin untuk kembali ke kerajaannya. Setelah sampai di kerajaannya, hal pertama kali yang dilakukan oleh raja tersebut adalah memerintahkan pengawalnya untuk membebaskan sang menteri dari dalam penjara dan kemudian diantarkan menuju hadapan raja.

Setelah menteri tersebut sampai dihadapan raja, dengan sepenuh hati sang raja memohon maaf kepada menteri atas perbuatannya yang telah memenjarakan menteri tersebut dengan sewenang-wenang. Setelah meminta maaf, kemudian sang raja berkata;

“Sekarang aku baru mengerti dan merasakan atas hikmah kebaikan dari terpotongnya salah satu jariku, seperti yang kau katakan dulu...Aku bersyukur sekali”.

Kemudian raja melanjutkan;

“Yang masih jadi pertanyaanku sekarang, apa maksud kebaikan yang kau katakan ketika aku perintahkan pengawalku untuk memenjarakanmu dulu?!”.

Dengan tenang menteri tersebut menjawab;

“Jika saja paduka tidak memenjarakanku pada waktu itu, mungkin saat ini saya tidak lagi bisa berdiri dihadapan paduka, karena mungkin saya sudah mati dijadikan tumbal persembahan untuk menggantikan paduka. Hal itu disebabkan karena saya tidak mempunyai cacat fisik dan seperti yang paduka ketahui, dulu saya selalu menyertai paduka kemanapun paduka pergi”.

“Oleh karena itu paduka….marilah kita selalu berprasangka baik kepada Tuhan, bahwa apa pun yang ditaqdirkan-Nya kepada kita semua pasti mengandung kebaikan yang mungkin tidak bisa kita fahami”.

Jika bermanfaat silahkan like dan bagikan untuk saudara kita yang lainnya. kunjungi web kita untuk melihat produk-produk keren dari J-FLEECE di www.jaketjfleece.com
Sumber: https://www.facebook.com/jfleecefanpage?fref=ts